reviews, bukuDecember 12, 2007 5:21 am
Buku ini mengupas tiga hal yang sangat penting bagi kesehatan "hati" kita sebagai manusia.

1. IKHLAS

"Tidak diperlukan lagi segala macam pengakuan dan kesaksian apapun bahwa kita pernah berjuang dan melangkah di jalan ALLAH. Dan cukuplah Allah sebagai saksi" (QS. Al-Fath:28)

Itulah sebenarnya hakikat ikhlas. Menunggalkan ALLAH sebagai tujuan seluruh perbuatan. "…Dan cukuplah ALLAH sebagai saksi". Ikhlas disebut-sebut sebagai garda terdepan yang menjadi syarat kesempurnaan amal. Tidak ada amalan yang sempurna kecuali dengan landasan keikhlasan. Dan ini merupakan rahasia yang hanya diketahui kesejatiannya oleh ALLAH SWT.

Rupanya iblis juga memberikan apresiasi lebih kepada orang yang ikhlas. Semakin kuat keikhlasan kita, semakin lemah pula upaya syaitan untuk mencengkeram kita. "...Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya; kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas(terpilih) diantara mereka." (QS. Al-Hijr:39-40). Maka beruntunglah orang-orang yang ikhlas. Ikhlas bukan hanya sebatas ketika beribadah seperti shalat, puasa, haji, dll. Kegiatan apapun yang kita lakukan selama itu untuk kebaikan, hendaknya didasari dengan keikhlasan. Karena dengan demikian akan bernilai ibadah.

Beberapa kisah teladan keikhlasan dalam buku ini cukup menggugah kita untuk bertanya dalam hati kecil, Sudahkah kita melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas?. Ketika perasaan kita begitu antusias menyambut dan melaksanakan ketaatan pada ALLAH sambil hati kita dipenuhi kecintaan kepada ALLAH SWT, maka itulah ikhlas. Berikut beberapa resep keikhlasan:

  1. telitilah niat
  2. berdoalah selalu agar dikaruniai keikhlasan
  3. wiridkanlah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW setiap pagi dan    sore : "Allahumma innii a’udzubika min an usyrika bika syai’an a’lamhu wa astaghfiruka lima lam a’lam" (Ya ALLAH, aku memohon perlindungan kepada-MU dari menyekutukan-MU dengan sesuatu yang aku ketahui dan aku mohon ampunan jika menyekutukan-MU dg apa yang tidak aku ketahui).
  4. buatlah satu ketaatan/kebaikan tersembuny yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh kita dan ALLAH SWT.
  5. tetaplah menjadi teladan dan jangan sembunyikan laku ketaatan kita selama kita dapat memberikan hidayah pada orang lain memalui amalan tersebut.
2. TAUBAT
Taubat kepada ALLAh berarti menyesal dan melepaskan diri dari segala dosa dan maksiat. Taubat tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang telah melakukan dosa besar seperti zina saja. Bahkan Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga selalu meminta ampun kepada ALLAh dan bertaubat kepadaNYA seratus kali dalam sehari.  Tiap-tiap kita hendaknya mencari tahu di mana posisi kita di hadapan ALLAH. Jika kita merasa tidak pernah berbuat dosa besar, maka mari kita bercermin. Bukankah menunda-nunda shalat adalah dosa besar?. Menggabungkan dua shalat dalam satu waktu tanpa adanya udzur, dan terlambat shalat shubuh setiap hari adalah dosa besar?. Mencaci dan mengatai orang tua adalah dosa besar?.

Benar bahwa barangkali kita memang tidak mencapai tempat perzinahan yang diharamkan ALLAH dan mengharuskan hukuman huduud. Namun kita tengah berada dalam fase yang genting, di tengah-tengah pintu dosa besar. Ribuan dosa kecil yang dilakukan sepanjang hari juga mengharuskan taubat. Berapa banyak keburukan yang kita lakukan?menggunjing orang?menghisap rokok di tempat umum?. Maka jelaslah kita butuh taubat. Akankah kita datang kepadaNYA kelak di hari kiamat dengan dosa yang menggunung tanpa pernah kita bertaubat?.

Dengan segala kondisi kita di dunia, kita memang akan bermaksiat dan kitapun telah ditakdirkan untuk bermaksiat. Namun, disamping itu kita juga ditakdirkan untuk mengenal ALLAH. Bagaimana kita bisa mengenalNYA sementara kita senantiasa lalai akan perintahNYA?.
Berikut syarat-syarat taubat :

  1. menyesal
  2. berhenti berbuat dosa
  3. bertekad kuat untuk tidak mengulangi
Ketiga hal tersebut mencerminkan tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bulatkan tekad untuk bertaubat, sebab semua mekanismenya berada di dalam hati.

3. TAWAKKAL

Banyak orang yang salah memahami ibadah ini. Gambaran tawakal yang salah adalah jika seseorang tidak bekerja, tidak meminum obat ketika sakit atau tidak belajar, lalu berkata "saya bertawakal, saya berdoa kepada ALLAH". Tawakal berarti [tetap] menjalankan sarana konduktif segenap anggota fisik sambil memutuskannya dari hati. Tawakkal diambil dari salh satu asma’ul husna : "Al-Wakiil" yang berarti Yang MAha menangani segala urusan hamba-hambaNYA dengan kebaikanNYA.

Ketika permasalahan dalam hidup ini datang bertubi-tubi, maka yang kita butuhkan adalah keyakinan total pada Al-Wakiil. Sebagai contoh janin dalam perut ibu akan menangis ketika saatnya keluar ke dunia ini. Dia merasa bahwa suplai makanan yang biasanya diapatkan melalui jalan darah terputus ketika tali pusarnya dipotong. Padahal ALLAH telah memberikan dua jalan alternatif lainnya, yaitu sepasang air susu ibu. Kelak ketika masa penyapihan datang, ia kembali menangis karena merasa kehilangan suplai makanan. Padahal saat itu juga ALLAH telah membukakan empat jalan baginya [sayuran, daging hewan, air dan susu]. Sampai ketika maut menjemput, ia pun menangis karena merasa semua jalan telah ditutup untuknya. Padahal ALLAH membukakan delapan pintu makanan sebanyak pintu surga.

Karena keterbatasan dan kebodohan kita sering mempertanyakan kebijaksanaan Al-Wakiil. Padahal ALLAH selalu merengkuh hambanya menuju kebaikan. ALLAH tidak mencegah kita kecuali untuk memberi kita. Dia tidak menguji kita kecuali untuk membersihkan kita. dia tidak mengeluarkan kita dari dunia kecuali untuk memilih tinggal di surga. Inilah sosok Al-Wakiil.. SUBHANALLAH….

Tawakkal adalah ibadah hati yang tidak ada kaitannya dengan anggota badan. Misalnya jika ingin sembuh, maka berobatlah. namun hati kita harus yakin bahwa bukan dokter fulanlah yang menyembuhkan tetapi hanya DIAlah Sang Maha Penyembuh. Barangsiapa sedang dirundung masalah maka katakanlah kembalikan semua dan pasrahkan kepada ALLAH sambil tetap berikhtiar mengambil sarana.

Semoga keinginan kita adalah keinginanNYA…
Karena hanya keinginanNYA lah yang akan terjadi…

reviews, bukuSeptember 26, 2007 10:09 am

Begitu melihat sampul depan buku ini, kupikir ini adalah buku misteri atau horor atau bahkan penculikan..heehhee.. belum apa2 dah parno (paranoid) duluan. Ternyata perkiraanku tidak semuanya benar. Lebih dari sekedar misteri, buku ini juga bercerita tentang perburuan harta karun bahkan cerita detektif. Dan semuanya itu berawal dari fantasi dua orang remaja bernama Nils Bøyum Torgersen dan Berit Bøyum. Nils tinggal di Oslo, Berit di Fjærland (dua-duanya terletak di Norwegia).Nils lebih muda satu tahun dan lebih pendek sepuluh senti daripada Berit.

Kedua orang ini mengalami beberapa kejadian yang  menurut mereka "aneh" dan "mencurigakan". Berawal dari perkiraan itulah mereka berusaha mengungkap misteri yang berhubungan dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Kisah ini diwarnai oleh fantasi dua orang anak kecil. Jostein Gaarder & Klaus Hagerup membawa kita masuk ke dalam fantasi mereka untuk mengungkap kebenaran.

Usai menghabiskan liburan musim panas bersama, dua orang remaja ini memilih menggunakan Buku-Surat sebagai alat komunikasi mereka walau tidak tinggal dalam satu kota. Bahasa yang dituturkan khas bahasa anak-anak yang penuh dengan fantasi yang kadang berlebihan. Tapi justru itulah yang rupanya diincar oleh seorang pustakawati, Bibbi Bokken.

Dan rupanya Bibbi Bokken memiliki sebuah komplotan yang seolah ingin merebut Buku-Surat mereka. Kedua bocah ini menemukan sesuatu disela-sela misteri yang akan mereka kuak. Yaitu akan ada sebuah buku yang terbit tahun depan dan itu masih menjadi misteri jg. Wah tambah ruwetlah penyelidikan mereka. Tapi tunggu dulu, buku ini tentu tidak akan terbit kalau mereka tidak berhasil mengungkap misteri itu. 

Ada perasaan tegang, cemas, dan tentu paranoid khas anak-anak ketika membaca buku ini. Jika cerita narasi yang anda harapkan, maka anda akan kecewa karena kisah ini dituturkan melalui surat yang ditulis secara bergantian oleh Nils dan Berit. Buku ini membuktikan bahwa ternyata, surat juga bisa menjadi karya sastra. Seperti halnya buku harian Kartini yang sampai sekarang menjadi inspirasi bagi kaum wanita. Semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi para penulis untuk terus berkreasi membuat tulisan yang lain daripada yang lain.

Yang belum baca, silahkan baca yaaa..

kalo ga punya bukunya boleh minjem sama nida.. :)

aku jg minjemnya sama dia. makasiyy yee ned.. 

reviews, bukuJuly 9, 2007 8:11 am
    Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton acara berita di salah satu stasiun televisi yang menyiarkan tuntutan para wanita mantan "Jugun Ianfu" di Cina. Beberapa hari sebelumnya disiarkan acara talkshow yang membahas tentang hal yang sama. Rupanya kasus yang terjadi puluhan tahun silam tak akan pernah terselesaikan selama Jepang tidak menyatakan kesalahannya.

    Pengadilan Internasional Kejahatan Perang terhadap Perempuan dalam kasus Perbudakan Seksual Militer Jepang selama Perang Dunia II, di Tokyo, tanggal 8-12 Desember 2000 tidak membuahkan hasil. Pengadilan ini secara simbolik dapat dilihat sebagai kemenangan atas perjuangan menentang pemaafan dan peminggiran kasus-kasus kejahatan seksual terhadap perempuan, khususnya dalam perang (Maria Hartiningsih, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0104/15/seni/sura32.htm). Saya jadi teringat dengan sebuah buku karya Pramoedya yang berjudul "Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer" yang waktu itu belum sempat saya selesaikan membacanya. Jujur saja waktu itu saya hanya senang membaca novel yang ringan-ringan saja.

     Dari sampulnya saja kita bisa menduga bahwa ini adalah cerita tentang kekerasan terhadap remaja. Ada gambar ilustrasi wajah-wajah menderita dibalik wajah manis seorang remaja yang beranjak dewasa.Berikut kutipan kalimat Pramoedya dalam bukunya yang mengiris hati.

"….kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu… Surat kepada kalian ini juga semacam protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…."

    Diawali dengan kata-kata yang menggugah kita sebagai perawan remaja untuk bersyukur atas keadaan saat ini. Meski ada kekurangan tetap saja tidak separah keadaan perawan remaja yang dijadikan budak seks oleh Jepang pada Perang Dunia II. Buku ini ditulis atas keterangan beberapa orang yang menjadi saksi dan juga korban kekejaman perang. Pada tahun 1943, ketika itu Pram berumur 18 tahun sayup terdengar berita bahwa pemerintah Dai Nippon akan memberikan beasiswa kepada perawan remaja Indonesia untuk sekolah di Jepang dan Singapura. Padahal itu hanya kamuflase dari alasan sebenarnya untuk menjadikan mereka "Jugun Ianfu" alias budak seks bagi serdadu jepang.
 
    Cerita berlanjut ketika Pram dibuang di Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol). Belum lama tinggal di sana, ia bertemu dengan beberapa wanita mantan budak kekejaman perang (saya tidak tega menyebutnya berkali-kali) meski awalnya mereka tidak mengakui.

    Tersirat jelas penderitaan yang dialami para wanita itu serasa tiada akhir ketika mereka harus terkungkung oleh adat yang menuntut untuk menyangkal masa lalu serta mengingkari jati diri sebenarnya. Adat yang membuat mereka menjadi tawanan dan membungkamkannya sepanjang hayat. Bahkan ada yang menyebut ini mirip dengan doktrin asimiliasionisme. Semua ini tidak dijalani para perempuan itu dengan kerelaan, tetapi semata-mata karena hidup tidak menyodorkan pilihan. Mereka terperosok dalam taraf kehidupan yang lebih rendah di tengah-tengah masyarakat pulau Buru yang masih sangat terbelakang. Buangan inilah yang akhirnya bercerita tentang keadaan mereka pada saat masih menjadi Jugun Ianfu.

    Kisah inti dari buku ini dimulai dari berita mengenai munculnya laki-laki muda Alfuru yang tengah menuruni pengunungan di tengah-tengah Pulau Buru mengunjungi para tahanan di Giripura, satu dari dua tempat permukiman para tapol yang paling jauh di pedalaman. Menurut teman-teman Pram, anak-anak itu datang membawa pesan dari ibu mereka, "Temuilah saudara-saudaramu yang baru tiba dari Jawa karena kalian adalah anak-anak dari ibu Jawa."

Upaya pencarian ini juga mempertemukan Daswian atau Oking dari permukiman Wanareja dengan adik ayahnya, anak seorang bekas asisten wedana di Subang yang hilang setelah dibawa Jepang dengan iming-iming sekolah di Tokyo. Sang bibi, Ibu F, pada akhirnya tidak menolak identitas aslinya, namun ia tidak mau bercerita tentang hidupnya, tentang bagaimana ia bisa sampai ke tempat itu. Pada anaknya pun sang bibi tidak bercerita siapa dirinya. "Ibu cuma bilang, jangan-jangan nasib beta akan berulang kalau beta ceritakan." (hal 77).

    Akan tetapi ada pula yang beruntung mendapatkan kebahagiaan meski mereka tetap tidak menghubungi kerabat mereka. Mungkin hal ini dikarenakan dendam atau protes kepada orangtua mereka yang menyerahkannya pada kebuasan tentara jepang. Atau bisa jadi mereka tidak ingin membuat keluarganya malu karena nasib yang menghampirinya. Mereka yang beruntung menurut keterangan buku tersebut, adalah yang dibuang di Singapura. Ketika Jepang telah dinyatakan menyerah mereka melarikan diri. Lain halnya dengan yang dibuang di Pulau Buru yang tidak bisa melarikan diri karena selain tempatnya terpencil, mereka sudah tidak berdaya akhirnya malah menikah dengan penduduk setempat yang parahnya lagi terkungkung oleh adat yang menyiksa.

    Masalahnya adalah para mantan Jugun Ianfu ini, setelah kekalahan Jepang masih ada yang meneruskan kebiasaan lamanya. Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi PSK. Mungkinkah itu dikarenakan sudah tidak ada pilihan hidup lain. Atau justru mereka menganggap ini adalah pekerjaan yang mudah menghasilkan uang? Mengingat mereka telah melakukannya bertahun-tahun meski waktu itu dalam kondisi terpaksa.

    Bukankah ketika rasa malu tidak tertahankan dan rasa kotor tidak terbersihkan; ketika tubuh dan seluruh kesadaran manusia hidup tidak cukup menampung penderitaan yang dialami raga dan jiwa, kita tetap masih bisa kembali kepadaNYA?. Hanya dengan mendekatkan diri padaNYA kita akan merasa aman. Seburuk apapun perjalanan hidup kita, masih ada yang bisa menerima dan mengampuni kita. 

    Jika pada saat Perang Dunia II banyak perawan remaja menjadi korban kekejaman perang dengan dipaksa menjadi Jugun Ianfu. Tidak menutup kemungkinan saat ini ada golongan perawan remaja yang menjadi korban karena eksploitasi hal-hal yang vulgar. Di zaman yang marak dengan teknologi modern seperti sekarang semakin banyak cara untuk mengeksploitasi hal-hal yang tidak sewajarnya dipublikasikan. Dan itu akan sangat merugikan generasi muda. Seharusnya itu juga digolongkan sebagai kekerasan bukan?.

    Maka generasi muda… bersyukurlah kita tidak mengalami hal memilukan ini. Semoga ALLAH menjaga kita semua, Perawan Remaja Indonesia dari belenggu penderitaan tiada akhir seperti yang mereka alami. Amiiiin..