xpression, pendidikan, Global warmingDecember 10, 2007 8:16 am

Hari Minggu yang lalu sempat menonton acara berita televisi untuk anak-anak di transTV. Pada salah satu segmennya ada beberapa pelajar yang diwawancara oleh reporter seputar pengetahuannya tentang "rumah kaca". Ada yang menjawab dengan benar, tetapi sebagian masih belum tepat. Ada yang menjawab rumah kaca adalah rumah tempat menyimpan tanaman-tanaman agar tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Liputan berita ini tentu saja berkaitan dengan isu Global Warming yang belakangan gencar diberitakan media di seluruh penjuru dunia.
Penjelasan mengenai Global Warming ini bisa anda baca di tulisan saya sebelumnya.

Terjadinya pemanasan global diyakini sebagai pemicu utama perubahan iklim. Bermula dari revolusi industri tahun 1870-an, kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil, minyak, gas dan batubara, terus meningkat. Aktivitas pembangkitan tenaga listrik, kegiatan industri, penggunaan alat elektronik, dan penggunaan kendaraan bermotor secara simultan telah melepaskan sejumlah emisi gas atmosfer.

Gas dari emisi kegiatan yang dilakukan manusia inilah yang disebut gas rumah kaca, yang menurut Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim, terdiri atas karbondioksida [CO2], dinitroksida [N2O], metana [CH4], sulfurheksafluorida [SF6], perfluorokarbon [PFCs] dan hidrofluorokarbon [HFCs]. Gas-gas itu ternyata menghadang bahkan menyerap gelombang panas yang dipantulkan bumi untuk dikembalikan ke angkasa luar melalui atmosfer.

Akibatnya gelombang panas yang merupakan radiasi yang dipancarkan matahari untuk menghangatkan bumi ini, terperangkap di atmosfer bumi. Karena peristiwa ini berlangsung berulang kali, maka terjadi akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu di bumi makin hangat. Peristiwa ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca [ERK].
Peningkatan suhu global dalam 100 tahun terakhir ini telah mencapai 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F)

Menurut Kajian Pelangi dan Kementrian Lingkungan Hidup, terdapat empat situasi karena Pemanasan Global:
Mencairnya es di kutub
Terjadinya pergeseran musim. Musim kemarau akan berlanngsung lebih lama, sedangkan musim hujan akan berlangsung singkat dengan intensitas curah hujan lebih tinggi dari normal, sehingga menimbulkan banjir, tanah longsor, dll.
Meningkatnya tinggi permukaan air laut
Terjadinya krisis pada sejumlah sektor kehidupan,
seperti krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih, meluasnya penyebaran penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, dan diare, kebakaran hutan, serta hilangnya jutaan spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu di bumi.

Semoga sekelumit penjelasan yang saya ambil dari berbagai sumber ini bisa memuaskan rasa ingin tahu pembaca sekalian. Dan semoga bisa menggerakkan hati kita untuk Menyelamatkan Bumi tercinta ini….
Save our Earth…

pendidikan 5:18 am
Makin menggeliatnya berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, memberikan banyak alternatif pilihan bagi masyarakat untuk menimba ilmu. Salah satu lembaga pendidikan itu adalah pesantren. Banyak orang tua yang berpendapat bahwa pesantren bisa memberikan pendidikan berikut pengajaran lebih intensif bagi anak-anaknya. Dengan demikian ilmu yang didapat tidak hanya ilmu duniawi, melainkan juga bekal untuk kehidupan di akhirat.

Sebut saja Pondok Modern Gontor. Pondok ini menggabungkan antara pendidikan pesantren dengan pengajaran yang modern. Pengajaran bersifat klasikal, yaitu proses belajar mengajar dilakukan di kelas. Materi  ilmu umum dan ilmu agama diajarkan secara seimbang. Mereka menyebut prosentasenya 100%-100%. Penyampaian materi menggunakan dua bahasa, Arab dan Indonesia. Dua piranti ijtihad ini sebagai kunci Bahasa Arab sebagai kunci mempelajari ilmu agama dan Inggris untuk ilmu umum.

Diterimanya pakaian celana di lingkungan pesantren juga berasal dari Gontor walau pada mulanya sangat dikritik kalangan pesantren salaf (tradisional). Demikian pula pengembangan koperasi pesantren, Gontor telah puluhan tahun lalu mengembangkannya. semua itu diintrodusir oleh Gontor.

Sistem Gontor telah menjadi fenomena dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia. Kehadirannya layak disejajarkan dengan Muhammadiyah ataupun Taman- siswa. Sosialisasi sistem Gontor bukan cuma melalui pondok alumni, tapi juga karena diadopsi oleh pondok pesantren lainnya, keseluruhan atau sebagian.

Seluruh kehidupan di Pondok Modern Gontor didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa, yaitu Jiwa Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyyah dan bebas. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan. Dalam kebebasan berpikir itulah alumni Gontor terus terpanggil melakukan ijtihad [pembaruan], tidak mudah terpola secara jumud [lamban]. Sekaligus mendobrak tradisi sami’na wa atha’na [mendengar dan patuh] pada kiai. "Sami’na wa atha’na para santri adalah kepada aturan, sistem pondok modern.

Pondok Modern Gontor merupakan hasil sintesa antara Universitas Al-Azhar Kairo [Mesir], Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Aligchar di India dan Taman Pendidikan Shantiniketan di India.

Al-Azhar dan Syanggit merupakan benteng pertahanan kebudayaan dan pendidikan Islam yang memiki wakaf besar bahkan memberi beasiswa para mahasiswanya. Aligchar cakap dalam usaha modernisasi ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zaman. Shantiniketan - didirikan Rabindranath Tagore - mampu mengembangkan sistem kebudayaan, kesederhanaan, kekeluargaan dan kedamaian. Nama Daarussalaam (tempat damai dan selamat) juga diilhami oleh makna shantiniketan.
Keempat lembaga pendidikan tersebut yang menjadi idaman para pendiri Pondok Modern Gontor, karena itu mereka hendak mendirikan lembaga pendidikan yang merupakan sintesa dari empat lembaga diatas.

Gagasan untuk membangun Gontor dan gambaran tentang bentuk pendidikan dan lulusannya diilhami oleh peristiwa dalam Kongres Ummat Islam  Indonesia di Surabaya pada pertengahan tahun 1926. Kongres itu dihadiri oleh oleh tokoh-tokoh ummat Islam Indonesia seperti H.O.S Cokroaminoto, Kyai Mas Mansur, H. Agus Salim, AM. Sangaji, Usman Amin, dll.
Dalam kongres tersebut diputuskan bahwa ummat Islam Indonesia akan mengutus wakilnya ke Muktamar Islam sedunia yang akan diselenggarakan di Makkah. Tetapi timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Padahal utusan yang akan dikirim ke acara tersebut harus mahir sekurang-kurangnya bahasa Arab dan Inggris. Akhirnya dipilih dua orang utusan, yaitu H.O.S Cokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan K.H Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab. Peristiwa ini mengilhami Pak Sahal yang hadir sebagai peserta kongres tersebut akan perlunya mencetak tokoh-tokoh yang mahir bahasa Arab dan Inggris sekaligus.

Adapun visi dan misi Pondok ini antara lain :

  1. Membangkitkan Islam di Indonesia dan di dunia dimulai dari tempat dimana kita berada.
  2. Gontor sebagai perekat umat karena motto Gontor "Gontor berdiri diatas dan untuk semua golongan".
  3. Menjadi orang alim, intelek, shalih dengan falsafahnya: "Jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama".
  4. Mencetak kader-kader umat sebagai penerus khairul ummah yang berjiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiah, dan jiwa bebas.
Sungguh cita-cita yang mulia. Semoga output dari PMG bisa terus memberikan sumbangsih yang berarti bagi bangsa ini.
Semangat pembaruan Gontor mengingatkan pada Muhammadiyah. Di sisi lain, tradisi ritualnya, seperti wiridan massal seusai salat, membaca qunut nazilah saat Salat Subuh, dua kali azan pada Salat Jumat, adalah tradisi NU.

Semoga lembaga pendidikan seperti ini akan terus berkembang di Indonesia, dan kembali menjadikan Negara ini percontohan dalam bidang pendidikan di Asia seperti pada era tahun 70-an.

pendidikan 5:15 am
Dunia pendidikan di Negara kita saat ini sudah mulai menunjukkan perkembangan yang berarti. Berbagai sekolah dengan inovasi baru pun dibuka. Benarkah ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah mulai memahami pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa ini?. Ataukah ini hanya lahan baru untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya?. Terlepas dari memahami atau tidak, yang terpenting adalah adanya kemajuan yang nyata dalam dunia pendidikan.

Jika kita melihat sejarah pendidikan di Jepang sebelum Restorasi Meiji, pendidikan pada awalnya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil). Mirip dengan pesantren di Indonesia.

Setelah itu Jepang terus mengadakan reformasi pendidikan guna menjadikan bangsa itu sejajar dengan dunia barat, yang telah lebih dulu maju. Setelah Restorasi Meiji pemerintah gencar menerbitkan dan menerjemahkan berbagai macam buku serta mengirimkan pelajar ke berbagai negara untuk mendalami berbagai bidang ilmu. Usaha ini akhirnya  membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Kemajuan pendidikan di Negara ini ternyata dibarengi dengan kemajuan industri yang menjadikan Jepang sebagai negara industri nomor satu di Asia.

Apa yang menjadikan Jepang menjadi demikian hebatnya?.Pada dasarnya pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang erat hubungannya. Kebudayaan positif tentunya akan mampu mendidik dan membentuk karakter seseorang. Ciri khas bangsa Jepang adalah kehausan mereka akan ilmu yang tak pernah terpuaskan. Karena itu tidak heran bila kehidupan sehari-hari bangsa Jepang tidak akan lepas dari membaca. Di stasiun, perpustakaan, di jalan, atau secara ekstremnya dikatakan, di mana ada kehidupan, di situ mereka membaca. Bahkan hingga saat ini, koran adalah bacaan wajib mereka setiap hari. Ini merupakan budaya yang sangat positif dan patut kita tiru.

Menurut Wiliam K. Cummings, Jepang berhasil merombak masyarakat melalui pendidikan melalui beberapa faktor antara lain :

  1. perhatian pada pendidikan datang dari pelbagai macam pihak
  2. sekolah Jepang tidak mahal
  3. tidak ada diskriminasi terhadap sekolah
  4. kurikulum sekolah Jepang amat berat
  5. sekolah sebagai unit pendidikan
  6. guru terjamin tidak akan kehilangan jabatan
  7. guru Jepang penuh dedikasi
  8. guru Jepang merasa wajib memberi pendidikan "manusia seutuhnya
  9. guru Jepang bersikap adil
Jika kita bandingkan dengan fenomena yang terjadi di Negara kita, beberapa hal tersebut di atas tampak sangat bertolak belakang.

Menurut Danasasmita ada beberapa karakteristik yang mendorong bangsa ini maju. Ini dibuktikan dengan beberapa ucapan

  1. arigatoo [terima kasih]. Orang Jepang menghargai jasa orang lain
  2. otsukaresamadeshita [maaf, Anda telah bersusah payah]. Orang Jepang menghargai hasil pekerjaan orang lain
  3. ganbatte kudasai [berusahalah!]. Perlunya setiap orang harus berusaha
  4. semangat bushido [semangat kesatria]. Orang Jepang punya semangat yang tidak pernah luntur, tahan banting, dan tidak mau menyerah
Yang paling penting, pendidikan tidak hanya sekedar proses belajar-mengajar saja, tetapi proses penyadaran untuk menjadikan manusia seutuhnya. Bukan hanya menjadikan manusia sebagai produk keluaran dari sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan adalah sebuah sarana untuk menjadikan manusia sebagai "manusia yang sadar diri" dalam sebuah generasi. Manusia yang mengerti apa yang seharusnya dilakukan atau tidak, apa yang baik dan jelek serta mengetahui mana yang hak atau kewajiban. Melahirkan manusia yang seperti ini adalah hakikat dari sebuah pendidikan.

Pada dekade 70-an Negara kita merupakan negara percontohan dalam bidang pendidikan. Bahkan dosen-dosen kita banyak yang diekspor ke Malaysia. Kini mereka bisa mendendangkan yel-yel "Malaysia Truly Asia", karena siapa?. Sungguh miris mengenang semua itu. Tapi sebagai generasi penerus, kita harus yakin bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki semua itu. Jepang yang pernah luluh lantak ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu bisa menjadi nomor satu di Asia. Kenapa kita tidak mengaca kepadanya?.