Buku ini mengupas tiga hal yang sangat penting bagi kesehatan "hati" kita sebagai manusia.

1. IKHLAS

"Tidak diperlukan lagi segala macam pengakuan dan kesaksian apapun bahwa kita pernah berjuang dan melangkah di jalan ALLAH. Dan cukuplah Allah sebagai saksi" (QS. Al-Fath:28)

Itulah sebenarnya hakikat ikhlas. Menunggalkan ALLAH sebagai tujuan seluruh perbuatan. "…Dan cukuplah ALLAH sebagai saksi". Ikhlas disebut-sebut sebagai garda terdepan yang menjadi syarat kesempurnaan amal. Tidak ada amalan yang sempurna kecuali dengan landasan keikhlasan. Dan ini merupakan rahasia yang hanya diketahui kesejatiannya oleh ALLAH SWT.

Rupanya iblis juga memberikan apresiasi lebih kepada orang yang ikhlas. Semakin kuat keikhlasan kita, semakin lemah pula upaya syaitan untuk mencengkeram kita. "...Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya; kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas(terpilih) diantara mereka." (QS. Al-Hijr:39-40). Maka beruntunglah orang-orang yang ikhlas. Ikhlas bukan hanya sebatas ketika beribadah seperti shalat, puasa, haji, dll. Kegiatan apapun yang kita lakukan selama itu untuk kebaikan, hendaknya didasari dengan keikhlasan. Karena dengan demikian akan bernilai ibadah.

Beberapa kisah teladan keikhlasan dalam buku ini cukup menggugah kita untuk bertanya dalam hati kecil, Sudahkah kita melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas?. Ketika perasaan kita begitu antusias menyambut dan melaksanakan ketaatan pada ALLAH sambil hati kita dipenuhi kecintaan kepada ALLAH SWT, maka itulah ikhlas. Berikut beberapa resep keikhlasan:

  1. telitilah niat
  2. berdoalah selalu agar dikaruniai keikhlasan
  3. wiridkanlah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW setiap pagi dan    sore : "Allahumma innii a’udzubika min an usyrika bika syai’an a’lamhu wa astaghfiruka lima lam a’lam" (Ya ALLAH, aku memohon perlindungan kepada-MU dari menyekutukan-MU dengan sesuatu yang aku ketahui dan aku mohon ampunan jika menyekutukan-MU dg apa yang tidak aku ketahui).
  4. buatlah satu ketaatan/kebaikan tersembuny yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh kita dan ALLAH SWT.
  5. tetaplah menjadi teladan dan jangan sembunyikan laku ketaatan kita selama kita dapat memberikan hidayah pada orang lain memalui amalan tersebut.
2. TAUBAT
Taubat kepada ALLAh berarti menyesal dan melepaskan diri dari segala dosa dan maksiat. Taubat tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang telah melakukan dosa besar seperti zina saja. Bahkan Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga selalu meminta ampun kepada ALLAh dan bertaubat kepadaNYA seratus kali dalam sehari.  Tiap-tiap kita hendaknya mencari tahu di mana posisi kita di hadapan ALLAH. Jika kita merasa tidak pernah berbuat dosa besar, maka mari kita bercermin. Bukankah menunda-nunda shalat adalah dosa besar?. Menggabungkan dua shalat dalam satu waktu tanpa adanya udzur, dan terlambat shalat shubuh setiap hari adalah dosa besar?. Mencaci dan mengatai orang tua adalah dosa besar?.

Benar bahwa barangkali kita memang tidak mencapai tempat perzinahan yang diharamkan ALLAH dan mengharuskan hukuman huduud. Namun kita tengah berada dalam fase yang genting, di tengah-tengah pintu dosa besar. Ribuan dosa kecil yang dilakukan sepanjang hari juga mengharuskan taubat. Berapa banyak keburukan yang kita lakukan?menggunjing orang?menghisap rokok di tempat umum?. Maka jelaslah kita butuh taubat. Akankah kita datang kepadaNYA kelak di hari kiamat dengan dosa yang menggunung tanpa pernah kita bertaubat?.

Dengan segala kondisi kita di dunia, kita memang akan bermaksiat dan kitapun telah ditakdirkan untuk bermaksiat. Namun, disamping itu kita juga ditakdirkan untuk mengenal ALLAH. Bagaimana kita bisa mengenalNYA sementara kita senantiasa lalai akan perintahNYA?.
Berikut syarat-syarat taubat :

  1. menyesal
  2. berhenti berbuat dosa
  3. bertekad kuat untuk tidak mengulangi
Ketiga hal tersebut mencerminkan tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bulatkan tekad untuk bertaubat, sebab semua mekanismenya berada di dalam hati.

3. TAWAKKAL

Banyak orang yang salah memahami ibadah ini. Gambaran tawakal yang salah adalah jika seseorang tidak bekerja, tidak meminum obat ketika sakit atau tidak belajar, lalu berkata "saya bertawakal, saya berdoa kepada ALLAH". Tawakal berarti [tetap] menjalankan sarana konduktif segenap anggota fisik sambil memutuskannya dari hati. Tawakkal diambil dari salh satu asma’ul husna : "Al-Wakiil" yang berarti Yang MAha menangani segala urusan hamba-hambaNYA dengan kebaikanNYA.

Ketika permasalahan dalam hidup ini datang bertubi-tubi, maka yang kita butuhkan adalah keyakinan total pada Al-Wakiil. Sebagai contoh janin dalam perut ibu akan menangis ketika saatnya keluar ke dunia ini. Dia merasa bahwa suplai makanan yang biasanya diapatkan melalui jalan darah terputus ketika tali pusarnya dipotong. Padahal ALLAH telah memberikan dua jalan alternatif lainnya, yaitu sepasang air susu ibu. Kelak ketika masa penyapihan datang, ia kembali menangis karena merasa kehilangan suplai makanan. Padahal saat itu juga ALLAH telah membukakan empat jalan baginya [sayuran, daging hewan, air dan susu]. Sampai ketika maut menjemput, ia pun menangis karena merasa semua jalan telah ditutup untuknya. Padahal ALLAH membukakan delapan pintu makanan sebanyak pintu surga.

Karena keterbatasan dan kebodohan kita sering mempertanyakan kebijaksanaan Al-Wakiil. Padahal ALLAH selalu merengkuh hambanya menuju kebaikan. ALLAH tidak mencegah kita kecuali untuk memberi kita. Dia tidak menguji kita kecuali untuk membersihkan kita. dia tidak mengeluarkan kita dari dunia kecuali untuk memilih tinggal di surga. Inilah sosok Al-Wakiil.. SUBHANALLAH….

Tawakkal adalah ibadah hati yang tidak ada kaitannya dengan anggota badan. Misalnya jika ingin sembuh, maka berobatlah. namun hati kita harus yakin bahwa bukan dokter fulanlah yang menyembuhkan tetapi hanya DIAlah Sang Maha Penyembuh. Barangsiapa sedang dirundung masalah maka katakanlah kembalikan semua dan pasrahkan kepada ALLAH sambil tetap berikhtiar mengambil sarana.

Semoga keinginan kita adalah keinginanNYA…
Karena hanya keinginanNYA lah yang akan terjadi…