Hari Minggu yang lalu sempat menonton acara berita televisi untuk anak-anak di transTV. Pada salah satu segmennya ada beberapa pelajar yang diwawancara oleh reporter seputar pengetahuannya tentang "rumah kaca". Ada yang menjawab dengan benar, tetapi sebagian masih belum tepat. Ada yang menjawab rumah kaca adalah rumah tempat menyimpan tanaman-tanaman agar tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Liputan berita ini tentu saja berkaitan dengan isu Global Warming yang belakangan gencar diberitakan media di seluruh penjuru dunia.
Penjelasan mengenai Global Warming ini bisa anda baca di tulisan saya sebelumnya.

Terjadinya pemanasan global diyakini sebagai pemicu utama perubahan iklim. Bermula dari revolusi industri tahun 1870-an, kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil, minyak, gas dan batubara, terus meningkat. Aktivitas pembangkitan tenaga listrik, kegiatan industri, penggunaan alat elektronik, dan penggunaan kendaraan bermotor secara simultan telah melepaskan sejumlah emisi gas atmosfer.

Gas dari emisi kegiatan yang dilakukan manusia inilah yang disebut gas rumah kaca, yang menurut Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim, terdiri atas karbondioksida [CO2], dinitroksida [N2O], metana [CH4], sulfurheksafluorida [SF6], perfluorokarbon [PFCs] dan hidrofluorokarbon [HFCs]. Gas-gas itu ternyata menghadang bahkan menyerap gelombang panas yang dipantulkan bumi untuk dikembalikan ke angkasa luar melalui atmosfer.

Akibatnya gelombang panas yang merupakan radiasi yang dipancarkan matahari untuk menghangatkan bumi ini, terperangkap di atmosfer bumi. Karena peristiwa ini berlangsung berulang kali, maka terjadi akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu di bumi makin hangat. Peristiwa ini dikenal dengan Efek Rumah Kaca [ERK].
Peningkatan suhu global dalam 100 tahun terakhir ini telah mencapai 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F)

Menurut Kajian Pelangi dan Kementrian Lingkungan Hidup, terdapat empat situasi karena Pemanasan Global:

  1. Mencairnya es di kutub
  2. Terjadinya pergeseran musim. Musim kemarau akan berlangsung lebih lama, sedangkan musim hujan akan berlangsung singkat dengan intensitas curah hujan lebih tinggi dari normal, sehingga menimbulkan banjir, tanah longsor, dll
  3. Meningkatnya tinggi permukaan air laut
  4. Terjadinya krisis pada sejumlah sektor kehidupan
seperti krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih, meluasnya penyebaran penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, dan diare, kebakaran hutan, serta hilangnya jutaan spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu di bumi.

Semoga sekelumit penjelasan yang saya ambil dari berbagai sumber ini bisa memuaskan rasa ingin tahu pembaca sekalian. Dan semoga bisa menggerakkan hati kita untuk Menyelamatkan Bumi tercinta ini….
Save our Earth…