Makin menggeliatnya berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, memberikan banyak alternatif pilihan bagi masyarakat untuk menimba ilmu. Salah satu lembaga pendidikan itu adalah pesantren. Banyak orang tua yang berpendapat bahwa pesantren bisa memberikan pendidikan berikut pengajaran lebih intensif bagi anak-anaknya. Dengan demikian ilmu yang didapat tidak hanya ilmu duniawi, melainkan juga bekal untuk kehidupan di akhirat.

Sebut saja Pondok Modern Gontor. Pondok ini menggabungkan antara pendidikan pesantren dengan pengajaran yang modern. Pengajaran bersifat klasikal, yaitu proses belajar mengajar dilakukan di kelas. Materi  ilmu umum dan ilmu agama diajarkan secara seimbang. Mereka menyebut prosentasenya 100%-100%. Penyampaian materi menggunakan dua bahasa, Arab dan Indonesia. Dua piranti ijtihad ini sebagai kunci Bahasa Arab sebagai kunci mempelajari ilmu agama dan Inggris untuk ilmu umum.

Diterimanya pakaian celana di lingkungan pesantren juga berasal dari Gontor walau pada mulanya sangat dikritik kalangan pesantren salaf (tradisional). Demikian pula pengembangan koperasi pesantren, Gontor telah puluhan tahun lalu mengembangkannya. semua itu diintrodusir oleh Gontor.

Sistem Gontor telah menjadi fenomena dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia. Kehadirannya layak disejajarkan dengan Muhammadiyah ataupun Taman- siswa. Sosialisasi sistem Gontor bukan cuma melalui pondok alumni, tapi juga karena diadopsi oleh pondok pesantren lainnya, keseluruhan atau sebagian.

Seluruh kehidupan di Pondok Modern Gontor didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa, yaitu Jiwa Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyyah dan bebas. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan. Dalam kebebasan berpikir itulah alumni Gontor terus terpanggil melakukan ijtihad [pembaruan], tidak mudah terpola secara jumud [lamban]. Sekaligus mendobrak tradisi sami’na wa atha’na [mendengar dan patuh] pada kiai. "Sami’na wa atha’na para santri adalah kepada aturan, sistem pondok modern.

Pondok Modern Gontor merupakan hasil sintesa antara Universitas Al-Azhar Kairo [Mesir], Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Aligchar di India dan Taman Pendidikan Shantiniketan di India.

Al-Azhar dan Syanggit merupakan benteng pertahanan kebudayaan dan pendidikan Islam yang memiki wakaf besar bahkan memberi beasiswa para mahasiswanya. Aligchar cakap dalam usaha modernisasi ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zaman. Shantiniketan - didirikan Rabindranath Tagore - mampu mengembangkan sistem kebudayaan, kesederhanaan, kekeluargaan dan kedamaian. Nama Daarussalaam (tempat damai dan selamat) juga diilhami oleh makna shantiniketan.
Keempat lembaga pendidikan tersebut yang menjadi idaman para pendiri Pondok Modern Gontor, karena itu mereka hendak mendirikan lembaga pendidikan yang merupakan sintesa dari empat lembaga diatas.

Gagasan untuk membangun Gontor dan gambaran tentang bentuk pendidikan dan lulusannya diilhami oleh peristiwa dalam Kongres Ummat Islam  Indonesia di Surabaya pada pertengahan tahun 1926. Kongres itu dihadiri oleh oleh tokoh-tokoh ummat Islam Indonesia seperti H.O.S Cokroaminoto, Kyai Mas Mansur, H. Agus Salim, AM. Sangaji, Usman Amin, dll.
Dalam kongres tersebut diputuskan bahwa ummat Islam Indonesia akan mengutus wakilnya ke Muktamar Islam sedunia yang akan diselenggarakan di Makkah. Tetapi timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Padahal utusan yang akan dikirim ke acara tersebut harus mahir sekurang-kurangnya bahasa Arab dan Inggris. Akhirnya dipilih dua orang utusan, yaitu H.O.S Cokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan K.H Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab. Peristiwa ini mengilhami Pak Sahal yang hadir sebagai peserta kongres tersebut akan perlunya mencetak tokoh-tokoh yang mahir bahasa Arab dan Inggris sekaligus.

Adapun visi dan misi Pondok ini antara lain :

  1. Membangkitkan Islam di Indonesia dan di dunia dimulai dari tempat dimana kita berada.
  2. Gontor sebagai perekat umat karena motto Gontor "Gontor berdiri diatas dan untuk semua golongan".
  3. Menjadi orang alim, intelek, shalih dengan falsafahnya: "Jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama".
  4. Mencetak kader-kader umat sebagai penerus khairul ummah yang berjiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiah, dan jiwa bebas.
Sungguh cita-cita yang mulia. Semoga output dari PMG bisa terus memberikan sumbangsih yang berarti bagi bangsa ini.
Semangat pembaruan Gontor mengingatkan pada Muhammadiyah. Di sisi lain, tradisi ritualnya, seperti wiridan massal seusai salat, membaca qunut nazilah saat Salat Subuh, dua kali azan pada Salat Jumat, adalah tradisi NU.

Semoga lembaga pendidikan seperti ini akan terus berkembang di Indonesia, dan kembali menjadikan Negara ini percontohan dalam bidang pendidikan di Asia seperti pada era tahun 70-an.