"Ada apa toh Pak?"
"Itu.. katanya ada yang ketabrak kereta di sana" jawab Pak Jo sambil menunjuk ke arah timur.
Beberapa orang tampak berjalan tergesa ke arah yang ditunjukkan Pak Jo tadi. Bahkan ada yang berlari sambil berteriak.. "siapa…?" khawatir korban yang tertabrak adalah anggota keluarganya.
Beberapa menit kemudian terdengar dengung sirine mobil ambulans dan polisi pun berdatangan. Suasana semakin mencekam ketika kulihat kemudian mobil ambulans lewat setelah mengevakuasi korban. Di belakangnya iring-iringan motor para warga juga polisi, seolah membawa pergi kecemasan kami.
Kabarnya kendaraan yang ditabrak adalah truk. Kira-kira 2km ke arah timur tempat tinggalku terdapat beberapa pabrik. Setiap hari kendaraan pribadi maupun truk-truk pengangkut barang bersliweran di jalan depan rumahku. Kebetulan truk naas itu sedang tidak mengangkut barang karena waktu itu masih pagi. Mungkin saja dia sedang akan mengambil barang, aku tidak tahu. Kata Lek Narti, tetanggaku yang sempat menonton kejadian itu, pengemudinya seorang lelaki paruh baya berasal dari wagir. Malang benar nasibnya.
Tragedi seperti ini tidak hanya terjadi sekali ini saja. Beberapa bulan yang lalu seorang anggota TNI yang sedang melintas mengendarai motornya juga menjadi korban kelalaian pemerintah. Kenapa disebut kelalaian pemerintah?. Karena jalur kereta api yang terletak di pemukiman warga ini tanpa pembatas jalan. Dan karena tanpa pembatas maka otomatis tanpa pos penjagaan. Padahal setiap harinya ratusan kendaraan lalu lalang melintasi jalur kereta api yang melintang di jalur mereka. Meski sudah beberapa kali memakan korban, rupanya pemerintah daerah belum tergerak untuk membangun pembatas jalan.
Jalur kereta tersebut berada di Jl Dr Cipto gang Kalianyar desa Bedali kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Semoga tragedi semacam ini tidak akan terjadi lagi. Semoga setelah ini para pemilik perusahaan yang melintasi jalan ini akan tergerak hatinya untuk membangun pembatas jalan demi keselamatan karyawannya. Semoga….
Amiin



