"glek..glekk..glekk.. Alhamdulillah… suegeerrr bangett!!". Iseng-iseng aku lihat di freezer, dan "ahaa!…. ada sebongkah es dibungkus plastik. Kelihatannya seperti es campur atau es teler gitu.
"Eeee.. dateng-dateng bukannya salamu’alaikum dulu malah langsung buka-buka kulkas. Iya.. itu es podeng jatah kamu" seru ibu menghampiriku, yang rupanya mendengar kedatanganku.
"Eh. iya.. Assalamu’alikum bundaku sayaaaang.."
Tanpa basa-basi lagi aku langsung melahap es apa tadi? es podeng ya kata ibuku?. Dan.. nyam..nyam..mmm mak nyeesss.. Rasanya seperti es krim tapi lebih seger. Ada dua bulatan es krim sedang yang satu berwarna coklat, satu lagi pink. Ditambah kombinasi isian lainnya, seperti alpukat, ketan hitam, kolang-kaling puding dan ini yang paling kusuka, kelapa muda. Masih ditambah satu buah wafer panjang. Siang-siang terik makan es memang sungguh pilihan enak apalagi es podeng Pak Ri. Dijamin, bakal ketagihan dan pasti momogi alias mau mau lagi.
Suatu kali aku pergi kepasar Lawang yang letaknya tidak seberapa jauh dari rumah bersama adikku. Dia langsung mengajakku ke kedai esnya Pak Ri. Luas kedainya memang hanya sepetak, tapi pengunjungnya sampai rela antri demi menikmati es podeng buatannya. Sebenarnya kedai ini tidak hanya menjual es podeng, ada juga bakso dan mie ayam. Sebenarnya baksonya juga lumayan enak, tapi yang lebih dikenal orang malah es podengnya. Di pasar ini memang belum ada yang menjual es podeng. Es podeng yang disediakan Pak Ri macam-macam. Ada es podeng istimewa seperti yang aku makan siang itu, es podeng campur , es podeng kelapa muda, dan es podeng teler. Jika musim durian, maka dia akan menyediakan es podeng durian. Mmmm.. pastinya lebih mak nyuusss…
Harga yang ditawarka juga tergolong tidak mahal. Waktu itu hanya Rp 2500 untuk tiap porsinya. Cukup terjangkau bukan?.
Beberapa waktu kemudian ada yang menjual es podeng lagi di pasar. Mungkin ingin meniru kesuksesan Pak Ri. Kalau Pak Ri memiliki kedai, dia menggunakan rombong alias gerobak yang didorong untuk menjajakan dagangannya. Harga yang ditawarkan pun lebih murah. Hanya Rp 1000 per bungkusnya. Tapi tentu saja tidak bertahan lama dan tidak seramai Pak Ri. Karena ternyata dia hanya menawarkan harga murah tanpa memperhatikan kualitas es buatannya. Terasa sekali "gula seribu manis" alias gula biang yang digunakan. Sehingga orang akan batuk-batuk setelah memakannya.
Nah.. ternyata kunci dari kesuksesan yang bisa kita ambil adalah selain kreatif, kita juga harus menjaga kualitas. Perlakukan pembeli seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Kalau Anda tidak mau makan makanan berpengawet, maka jangan berikan makanan berpengawet atau yang membahayakan kepada orang lain. Selain itu.. keuletan tetap diperlukan. Pantang menyerah adalah modal yang cukup penting juga bagi Anda yang ingin memulai usaha.



