Meski beberapa orang mudik pada saat lebaran, aku sendiri tidak pernah mudik. Paling jauh mudiknya ke Purwodadi-Pasuruan yang jaraknya hanya sekitar 20 km dari rumahku. Itupun tidak pernah lama. Biasanya kami mengunjungi rumah nenekku itu setelah melaksanakan shalat Ied. Sekarang, setelah nenekku meninggal kami tidak pernah menginap lagi di sana.

Ada satu menu wajib yang selalu kami jumpai di sana, yakni opor ayam lengkap dengan sambal dan lalapannya. Ayamnya disembelih dari peliharaan sendiri. Yang paling khas adalah meski ayam kampung, dagingnya bisa empuk sekali sampai tulang-tulangnya mreteli. Dan resep rahasia nenekku membuat rasanya tambah mantap kalee!!..Hmm..mmm yummy.. kata nenek, menu ini khusus disiapkan untuk menyambut kedatangan kami loh.. :) . Karena memang saat itu hanya Abaku yang rumahnya paling jauh. Meski ibuku juga sering memasak opor ayam, tapi opor yang ini selalu menjadi menu yang ditunggu. Sekarang, meski nenek telah tiada tanteku lah yang meneruskan tradisi ini. Jadi kami tetap bisa melahap opor ayam favorit kami di hari yang fitri :) .

Satu lagi menu wajib kami ketika lebaran. Yaitu ketika kami mengunjungi rumah pak de Kabul, kakak dari ibuku yang tertua. Biasanya kami mengunjungi rumah pak de bersama keluarga bude-budeku yang tinggal dekat rumahku. Menu wajibnya adalah "rujak manis". Awalnya ketika kami mengujungi beliau, pohon mangga di depan rumahnya sudah berbuah tapi masih muda. Saat itu mbak etik, anak pak de ku berinisiatif untuk membuat rujak manis. Tapi tentu saja isinya tidak hanya mangga muda. Sampai sekarang tradisi ini masih bertahan. Kami semua jadi suka sekali makan rujak manis. Rasanya tidak kalah dengan rujak semeru yang terkenal di malang itu loh…

Setelah pulang dari rumah nenek, kami melewati rumah bude untuk mengambil kunci. Di ruang tamu kami mencium aroma menyengat. Aroma khas makanan yang dibakar seketika menyeruak seisi rumah. Sepertinya ada yang membakar sesuatu di belakang. Rupanya kami melewatkan acara bakar ikan tadi sore. Beberapa menit kemudian budeku menyodorkan sekeresek penuh ikan.
"waduh maaf yaa.. kalian tidak kebagian ikan bakarnya. Tadi memang banyak sekali tamu. Ini ikan mentahnya masih banyak, jadi kalian bakar sendiri aja yaa.." kata budeku dengan nada menyesal.
"Iyah gpp ko bude, lagian kita juga tadi udah ngabisin opor ayam di rumah mbah. Makasih yaa ikannya" jawabku.
Rupanya mas deni, sepupuku yang bekerja di paiton membawa sekotak penuh ikan yang mirip ikan dorang itu. Katanya ikan putihan namanya. Tapi menurutku lebih mirip ikan dorang. Karena malam itu kami sudah kenyang dan capek, acara memasak ikan kami lakukan esok paginya.

Oya satu lagi minuman yang hanya bisa kami temui di rumah mbah Ni ketika lebaran. Yaitu temu lawak yang rasanya seperti minuman ringan. Rasanya seperti meminum fanta rasa temu lawak. Jamu temu lawak yang biasanya pahit, di tangan mbah Ni bisa menjadi favorit kami sekeluarga. Pasalnya minuman ini menyegarkan seperti minuman bersoda. Biasanya kami dibawakan satu botol besar ukuran 1,5 liter untuk tiap keluarga. Meski telah diajari cara membuatnya, rasanya tidak akan sama seperti buatan tangan beliau. Mbah Ni memang dulunya penjual jamu. Tetapi tidak satupun dari anaknya yang mau meneruskan usaha beliau itu. Sejak beliau meninggal dua tahun yang lalu kami tidak bisa lagimencicipi minuman khas buatannya.

Terlepas dari enaknya menu lebaran yang ada, kebersamaan lah yang menjadi inti dari semuanya. Kebersamaan yang tidak bisa kita dapati setiap hari. Dengan demikian benarlah adanya jika lebaran merupakan momen untuk mempererat tali silaturahmi.

HAPPY IED MUBARAK 1428 H
selamat menikmati hidangan lebaran yaa…