Tiap kali hari raya idul fitri suasana di kampungku sangat ramai. Para orang tua yang anaknya tinggal dan bekerja di luar kota akan datang berkumpul di hari istimewa itu. Begitu juga budeku. Beberapa sepupuku yang kebanyakan tinggal di luar kota biasanya menghabiskan lebaran di rumah budeku. Anak-anak budeku memang sudah punya momongan semua. Rumahku tentu saja menjadi base camp nya ponakan-ponakan yang masih kecil. Mereka selalu senang bermain bersama kami, tante-tantenya yang masih imut (kekekekekek…). Biasanya mas nono, sepupuku yang tinggal di probolinggo datang duluan.Dia mengantarkan anak-anak dan istrinya seminggu sebelum lebaran. Ia sendiri masih harus bekerja, karena perusahaan tempatnya bekerja hanya memberi jatah cuti dua hari.Tari, ponakanku yang sekarang duduk di bangku kelas 4 SD selalu menginap di rumahku. Dia memang sejak kecil sudah betah tinggal di rumahku. Tempat tidur favoritnya adalah sofa ruang tamuku. Meski banyak sekali nyamuknya, dia tidak pernah mau disuruh tidur di kamar. Alasannya bisa tidur sambil nonton TV. Padahal selalu saja dia yang ditonton TV. Anaknya mas nono ada 3. Tari, Fajar dan Figo.

Setelah itu datang mas deni. Meski dia bekerja di probolinggo seperti mas nono, rumahnya di ngawi. Pasalnya istrinya orang ngawi dan mengajar di sana. Seminggu sekali dia pulang ke ngawi. Arga, anaknya mas deni lain lagi. Meski cowok dia paling cerewet dari cucu-cucu budeku yang lain. Dan tutur katanya yang "njawani" seringkali membuat kita terpingkal karena bahasanya lucu. Belum lagi mas yuli bersama pasukannya,Reyhan dan Racca yang tinggal di pasuruan.

Tahun ini mas hadi dan mas antok yang sudah beberapa tahun terakhir menetap di kalimantan tidak bisa pulang. Meski begitu, lebaran selalu menjadi momen yang membahagiakan.

Rupanya tidak hanya rumah budeku yang kebanjiran pemudik. Tetangga sebelah rumahku juga kedatangan anak-anaknya dari surabaya. Rumah mungil itu menjadi begitu ramai ketika lebaran meski dalam keluarga mereka ada yang beragama nasrani. Tetanggaku itu memang unik. Ayahnya muslim. Ibunya nasrani. Dari keempat anaknya hanya satu yang beragama islam. Tapi cucunya juga menganut agama yang bervariasi. Entah bagaimana sampai sekarang mereka tetap akur saja menjalani hidupnya. Mungkin itulah salah satu wujud keragaman bangsa kita yang "berbeda-beda tetapi tetap satu jua" :)

Ada pula tetanggaku yang tinggal di kalimantan tapi memiliki rumah di sini. Mereka adalah keluarga yang sangat berkecukupan. Rumahnya hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan ketika mereka ke malang. Sanak familinya memang banyak di kampung ini. Momen seperti lebaran inilah mereka menghabiskan masa liburan di kampungku. Rupanya kampungku masih jadi pilihan para pemudik untuk berhari raya. Mau mudik??? yaa ke kampungku ajah!!! :)

Ketika malam takbiran, beberapa rombongan melintas di depan rumah. Biasanya mereka menaiki truk atau pick-up dengan membawa peralatan musik yang lengkap khas takbiran. Ada yang menggunakan alat musik yang biasa digunakan "drum band". Jadi nuansa takbirannya ala "drum band". Ada juga yang menggotong bedug dan membawa peralatan dapur. Ternyata peralatan dapur berguna juga loh.. Nah bagi anak-anak yang tidak ikut takbir keliling bisa juga bertakbir bersama di mushalla. Apapun bentuknya, gema takbir selalu menggetarkan hati. ALLAAHU AKBAR…ALLAAHU AKBAR..ALLAAHU AKBAR.. LAA ILAAHA ILLALLAAHU ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR WALILLAAHIL HAMD..
Di sela-sela gema takbir terdengar gemuruh petasan. Langitpun bercahaya. Malam itu kami juga menyulut kembang api loh.. Acara ini menjadi momen yang ditunggu ponakan-ponakanku.
It’s always lots of fun spending times with the kids.

Paginya… kami berbondong-bondong menuju mushalla dekat rumah yang menjadi tempat kami menunaikan shalat ied. Mushalla yang hanya berlantai dua itu kini begitu penuh dengan jama’ah shalat. Sampai-sampai memenuhi jalan raya di sampingnya. Jalan ke timur pun untuk sementara ditutup.
Taqabbalallallu minna wa minkum
Syiyamana wa shiyamakum
Ja’alanallahu minal muttaqin, ‘aidzin wal faizin
amin.

MOHON MAAF LAHIR BATIIN YAA..