Ketika datang bulan Ramadhan, kita sering mendengar kata i’tikaf. Bahkan di kota-kota besar hal ini sudah menjadi rutinitas bagi sebagian orang pada saat ramadhan. Memasuki hari ke-20 Ramadan, masjid-masjid akan diwarnai dengan acara itikaf. Kegiatan itikaf ini akan berlangsung hingga berakhirnya bulan suci Ramadan. Sejujurnya, saya belum pernah melakukannya. Sebenarnya ingin sekali bisa menunaikan ibadah yang satu ini. Semoga ramadhan tahun depan saya bisa mewujudkan keinginan ini.

I’tikaf berasal dari kata ‘akafa alaihi’, artinya berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i’tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar’iyah kata i’tikaf berarti berdiam diri di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya.

 
Seseorang yang melakukan i’tikaf (mu’takif) hendaknya mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i’tikaf, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.

Yang dilakukan pada saat i’tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqarrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah seperti shalat, zikir, membaca ayat suci Al-Quran, Belajar membaca Al-Quran, Belajar Memahami Isi Al-Quran serta berdoa.

Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri’tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh istirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i’tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i’tikaf.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu (bahwasanya) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sering beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang mana beliau diwafatkan padanya, beliau (pun) beri’tikaf selama dua puluh hari (HR. Al-Bukhari).

Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim).
 
I’tikaf tidak sah dilakukan kecuali di masjid. Ini adalah hal yang kebenarannya telah menjadi kesepakatan semua ulama. Sesuai dengan firman Allah SWT:

 

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)

 

Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita. Jika beliau saja yang sudah terjamin akan masuk surga masih melakukan i’tikaf untuk mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, bagaimana dengan kita?.

Sebagai tambahan banyak sekali orang yang sukses berkat rajin beri’tikaf. Karena i’tikaf dilakukan pada 10 hari terakhir di bulan ramadhan, bisa jadi orang yang beri’tikaf mendapatkan barakah dari Lailatul Qadr. Kabarnya kemuliaan Lailatul Qadr  melebihi 1000 bulan. Malaikatpun ikut mendoakan hamba yang tengah beribadah ketika Lailatul Qadr. Sehingga besar kemungkinan apapun permintaannya akan dikabulkan oleh ALLAH SWT. Ini mungkin bisa memotivasi kita yang ingin memperbaiki kehidupan ataupun yang sedang dirundung masalah untuk bangkit kembali.

Tulisan ini berdasarkan pengamatan saya dan beberapa referensi tentang i’tikaf. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membacanya. Semoga ramadhan tahun depan kita masih bisa bertemu dengan bulan yang suci ramadhan serta berkesempatan untuk melaksanakan i’tikaf.

Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri kepadaNYA melalui ibadah ini… Amiiiin.
Ayo I’tikaf!!