Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton acara berita di salah satu stasiun televisi yang menyiarkan tuntutan para wanita mantan "Jugun Ianfu" di Cina. Beberapa hari sebelumnya disiarkan acara talkshow yang membahas tentang hal yang sama. Rupanya kasus yang terjadi puluhan tahun silam tak akan pernah terselesaikan selama Jepang tidak menyatakan kesalahannya.
Pengadilan Internasional Kejahatan Perang terhadap Perempuan dalam kasus Perbudakan Seksual Militer Jepang selama Perang Dunia II, di Tokyo, tanggal 8-12 Desember 2000 tidak membuahkan hasil. Pengadilan ini secara simbolik dapat dilihat sebagai kemenangan atas perjuangan menentang pemaafan dan peminggiran kasus-kasus kejahatan seksual terhadap perempuan, khususnya dalam perang (Maria Hartiningsih, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0104/15/seni/sura32.htm). Saya jadi teringat dengan sebuah buku karya Pramoedya yang berjudul "Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer" yang waktu itu belum sempat saya selesaikan membacanya. Jujur saja waktu itu saya hanya senang membaca novel yang ringan-ringan saja.
Dari sampulnya saja kita bisa menduga bahwa ini adalah cerita tentang kekerasan terhadap remaja. Ada gambar ilustrasi wajah-wajah menderita dibalik wajah manis seorang remaja yang beranjak dewasa.Berikut kutipan kalimat Pramoedya dalam bukunya yang mengiris hati.
"….kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu… Surat kepada kalian ini juga semacam protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…."
Diawali dengan kata-kata yang menggugah kita sebagai perawan remaja untuk bersyukur atas keadaan saat ini. Meski ada kekurangan tetap saja tidak separah keadaan perawan remaja yang dijadikan budak seks oleh Jepang pada Perang Dunia II. Buku ini ditulis atas keterangan beberapa orang yang menjadi saksi dan juga korban kekejaman perang. Pada tahun 1943, ketika itu Pram berumur 18 tahun sayup terdengar berita bahwa pemerintah Dai Nippon akan memberikan beasiswa kepada perawan remaja Indonesia untuk sekolah di Jepang dan Singapura. Padahal itu hanya kamuflase dari alasan sebenarnya untuk menjadikan mereka "Jugun Ianfu" alias budak seks bagi serdadu jepang.
Cerita berlanjut ketika Pram dibuang di Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol). Belum lama tinggal di sana, ia bertemu dengan beberapa wanita mantan budak kekejaman perang (saya tidak tega menyebutnya berkali-kali) meski awalnya mereka tidak mengakui.
Tersirat jelas penderitaan yang dialami para wanita itu serasa tiada akhir ketika mereka harus terkungkung oleh adat yang menuntut untuk menyangkal masa lalu serta mengingkari jati diri sebenarnya. Adat yang membuat mereka menjadi tawanan dan membungkamkannya sepanjang hayat. Bahkan ada yang menyebut ini mirip dengan doktrin asimiliasionisme. Semua ini tidak dijalani para perempuan itu dengan kerelaan, tetapi semata-mata karena hidup tidak menyodorkan pilihan. Mereka terperosok dalam taraf kehidupan yang lebih rendah di tengah-tengah masyarakat pulau Buru yang masih sangat terbelakang. Buangan inilah yang akhirnya bercerita tentang keadaan mereka pada saat masih menjadi Jugun Ianfu.
Kisah inti dari buku ini dimulai dari berita mengenai munculnya laki-laki muda Alfuru yang tengah menuruni pengunungan di tengah-tengah Pulau Buru mengunjungi para tahanan di Giripura, satu dari dua tempat permukiman para tapol yang paling jauh di pedalaman. Menurut teman-teman Pram, anak-anak itu datang membawa pesan dari ibu mereka, "Temuilah saudara-saudaramu yang baru tiba dari Jawa karena kalian adalah anak-anak dari ibu Jawa."
Upaya pencarian ini juga mempertemukan Daswian atau Oking dari permukiman Wanareja dengan adik ayahnya, anak seorang bekas asisten wedana di Subang yang hilang setelah dibawa Jepang dengan iming-iming sekolah di Tokyo. Sang bibi, Ibu F, pada akhirnya tidak menolak identitas aslinya, namun ia tidak mau bercerita tentang hidupnya, tentang bagaimana ia bisa sampai ke tempat itu. Pada anaknya pun sang bibi tidak bercerita siapa dirinya.
"Ibu cuma bilang, jangan-jangan nasib beta akan berulang kalau beta ceritakan." (hal 77).
Akan tetapi ada pula yang beruntung mendapatkan kebahagiaan meski mereka tetap tidak menghubungi kerabat mereka. Mungkin hal ini dikarenakan dendam atau protes kepada orangtua mereka yang menyerahkannya pada kebuasan tentara jepang. Atau bisa jadi mereka tidak ingin membuat keluarganya malu karena nasib yang menghampirinya. Mereka yang beruntung menurut keterangan buku tersebut, adalah yang dibuang di Singapura. Ketika Jepang telah dinyatakan menyerah mereka melarikan diri. Lain halnya dengan yang dibuang di Pulau Buru yang tidak bisa melarikan diri karena selain tempatnya terpencil, mereka sudah tidak berdaya akhirnya malah menikah dengan penduduk setempat yang parahnya lagi terkungkung oleh adat yang menyiksa.
Masalahnya adalah para mantan Jugun Ianfu ini, setelah kekalahan Jepang masih ada yang meneruskan kebiasaan lamanya. Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi PSK. Mungkinkah itu dikarenakan sudah tidak ada pilihan hidup lain. Atau justru mereka menganggap ini adalah pekerjaan yang mudah menghasilkan uang? Mengingat mereka telah melakukannya bertahun-tahun meski waktu itu dalam kondisi terpaksa.
Bukankah ketika rasa malu tidak tertahankan dan rasa kotor tidak terbersihkan; ketika tubuh dan seluruh kesadaran manusia hidup tidak cukup menampung penderitaan yang dialami raga dan jiwa, kita tetap masih bisa kembali kepadaNYA?. Hanya dengan mendekatkan diri padaNYA kita akan merasa aman. Seburuk apapun perjalanan hidup kita, masih ada yang bisa menerima dan mengampuni kita.
Jika pada saat Perang Dunia II banyak perawan remaja menjadi korban kekejaman perang dengan dipaksa menjadi Jugun Ianfu. Tidak menutup kemungkinan saat ini ada golongan perawan remaja yang menjadi korban karena eksploitasi hal-hal yang vulgar. Di zaman yang marak dengan teknologi modern seperti sekarang semakin banyak cara untuk mengeksploitasi hal-hal yang tidak sewajarnya dipublikasikan. Dan itu akan sangat merugikan generasi muda. Seharusnya itu juga digolongkan sebagai kekerasan bukan?.
Maka generasi muda… bersyukurlah kita tidak mengalami hal memilukan ini. Semoga ALLAH menjaga kita semua, Perawan Remaja Indonesia dari belenggu penderitaan tiada akhir seperti yang mereka alami. Amiiiin..
gw tau ni bukunya…kayanya ada d rumah dey
yang pasti ni buku seru, bikin sebel abiz ma penjajah..semoga segala macam bentuk penjajahan di dunia ga da lagi dey biar damai…..
Comment by cnied — July 9, 2007 @ 10:30 am
Paling benci liat pilem pemerkosaan, eh sekarang malah baca blognya. Capee dee…
Comment by warix — July 10, 2007 @ 11:20 am
to cnied : makacii ya pinjemannya, akhirnya gw jd bisa nyelesein tugas!!horee…;p
to warix : q jg gasuka lagee, niy kan semata2 bwt lahan supaya kasus ini cepet beres (cieee..) dan sekaligus bwt para remaja (trmasuk penulis..)tuk aware thd masalah yg satu ini,getoo…
Comment by dyan — July 11, 2007 @ 5:14 am
nyaris sama dg ‘Perempuan di wilayah Konflik’, - salah satu film di Jakarta International Film festival 2004. juga ‘In Bed with TNI’ yg tahun lalu diputer HamurSava di Togamas.
whew.., jadi kangen sama komunitas saya yg dulu..
Comment by the ikal — July 11, 2007 @ 3:09 pm
salah satu mantan korban jugun lanfu yang sukses adalah ” mak erot ” hehe…tapi bukan berarti aku termasuk pelanggannya lho ! intinya, ga ada kata ‘nasi sudah menjadi bubur’ kata Aa Gym, justru bagaimana supaya bisa menjadikan bubur itu lebih lezat dari nasi, apalagi buburnya rasa kari, wow pasti…@_*
trus,bagaimana dengan saudari2 kita di palestina, irak dan di negara2 yang muslimnya minoritas dan terjajah? masihkan mereka merasakan apa yang telah dirasakan nenek moyang kita? Rabbuna Yastur…
jepang tidak mengenal agama, pantas saja memperlakukan musuhnya sak ena’e udele dw, lain dengan islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin…sampe perang pun harus ada aturannya. tidak boleh membunuh perempuan, laki laki yang sudah lemah, anak anak, bahkan dilarang juga merusak pepohonan. alhamdulillah ‘ala ni’matil islam
Comment by goffy — July 12, 2007 @ 8:02 pm
buku yang menarik,kasihan para wanita yang telah menjadi korban,kasihan sekali.
moga2 perempuan jaman sekarang lebih menjaga kesucian mereka,pernah aku baca kesucian jaman sekarang cuma berharga 1 botol minuman dan satu piring nasi,menggenaskan sekali…
Comment by Siemen — July 17, 2007 @ 4:28 pm
*kunjungan balasan
belum bisa komen, salam kenal dari Bali
Comment by wira — September 28, 2007 @ 2:35 am
yaaahh…apa bleh bwt..yg lalu biarlah berlalu..
skrang ngga bleh lg hal sperti itu terjadi..
kta sbgai perempuan hruz bsa jdi yg terbaik..
bkankah kta skrg sdah dianggap balance dgan laki2..
so..SEMANGAT!!!!!
Comment by ucwah — November 6, 2007 @ 9:25 am